Responsive Banner design

Puisi "Pahlawan Penyelamat Bangsa"


Pahlawan Penyelamat Bangsa

Jiwa ragamu kau  taruhkan
Demi menyelamatkan bangsa ini
Melawan badai tiada henti
Melawan arus tiada tanding
Mengorbankan semangat juang yang tinggi
Waktu demi waktu berlalu
Tiada henti kau melawan penjajah
Melawan dengan penuh semangat
Melawan dengan tekad yang kuat
Kau berjuang dengan gagah berani
Menghapus ketidakadilan
Mempersembahkan kemerdekaan
Untuk bangsa tercinta

Puisi "Ibuku Sayang"


Ibuku Sayang
Oh.. ibuku sayang
Betapa besar jasamu
Melahirkan dan merawatku
Menyayangiku dengan sepenuh hati

Laksana mentari
Yang menyinari bumi
Memberi harapan
Dan  kehangatan

Oh.. ibuku sayang
Tak akan mampu aku mebalas
Setiap tetes air matamu
Setiap tetes keringatmu
Dan setiap pengorbananmu
Yang kau berikan padaku

Oh.. ibuku sayang
Hanya doa yang aku persembahkan
Semoga tuhan menyayangimu
Melindungimu dengan rahmatnya
Seperti engkau melindungiku

Puisi Cinta


“Anugerah Terindah”
Kau datang dengan senyum manis
Kau bawa sejuta kejutan indah
Kau berikan kasih sayangmu
Kau buatku sempurna

Menjagaku layaknya malaikat pelindung
Memberi kehangatan layaknya mentari
Menghiasi hidupku layaknya bintang
Menerangiku layaknya rembulan malam

Kau tak biarkan aku bersedih
Kau selalu buat ku tertawa bahagia
Kau selalu buat ku nyaman disisimu
Kau selalu trima kekuranganku

Cinta mu sangat tulus padaku
Ku ingin selalu bersama mu
Menyayangi mencintai selalu seperti ini
Tak kan berubah sampai akhir jaman

Puisi tentang Lingkungan


“Stop Rusak Bumi Ini”
Hembusan angin nan lembut
Lambaian pepohonan
Gemericik air mengalir
Kicauan burung nan lembut

Rasa senang
Rasa haru
Akan ciptaan tuhan yang maha kuasa
Sungguh indah

Namun sekarang
Semua rusak
Semua lenyap
Digantikan bangunan demi bangunan

Akan jadi apa bumi kita ini?
Bencana akan datang silih berganti
Wahai kau perusak! Apa kau tak peduli?
Dengan nasib kita dan generasi penerus

Tolong
Stop! Berhenti rusak Bumi ini!
Agar tak hanya bencana yang diwariskan
Agar anak cucu kita
Bisa melihat karya Agung Tuhan

Pidato Bahasa Indonesia tentang Tata Krama


“LUNTURNYA TATA KRAMA HILANGKAN JATI DIRI BANGSA”

“Om Swastyastu”.
Yang saya hormati ibu guru, serta teman-teman yang saya banggakan.
            Marilah kita memanjatkan puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Ida Sang Hyang Widhi Wasa, karena berkat karunianya kita semua dapat berkumpul disini dalam keadaan yang sehat.  Pada hari ini, saya akan menyampaikan pidato dengan judul “Lunturnya Tata Krama Hilangkan Jati Diri Bangsa”.
            Teman-teman yang saya banggakan,
Tata krama atau adat sopan santun atau yang sering disebut etika merupakan kebiasaan yang mengatur cara bersikap atau bertingkahlaku yang baik yang menjadi tuntunan masyarakat dimanapun, kapanpun, dalam hubungan antar manusia yang telah disepakati. Menerapkan tata krama dalam kehidupan sehari-hari sangat penting karena dapat menciptakan kedamaian, kebahagiaan, keselarasan, dan keselamatan. Perwujudan tata krama dalam pergaulan khususnya pelajar ada 3 yaitu, tata krama di lingkungan rumah (keluarga), tata krama di lingkungan sekolah, dan tata krama di lingkungan masyarakat.
            Namun seiring berjalannya waktu tata krama yang telah menjadi norma dan kebiasaan masyarakat ini semakin memudar bahkan cenderung diabaikan. Saat ini bangsa ini mengalami kemunduran yang luar biasa dalam bidang tata krama dan sopan santun yang sebenarnya itulah yang menjadi ciri khas bangsa Indonesia, yang kini hilang digrogoti oleh teknologi dan kemajuan zaman. Banyak pemuda saat ini sudah tidak lagi memperhatikan tata krama. Hal ini terbukti dengan banyaknya pemuda yang tidak tahu tentang cara bersikap dengan orang secara baik dan benar , cara bertutur kata yang baik, dan cara berprilaku yang semestinya dilakukan oleh pemuda. Bangsa kita yang sudah terkenal ramah kepada setiap pendatang harus terus menjunjung nilai-nilai tata krama karena jika diabaikan akan berdampak pada lunturnya tata krama dalam kehidupan masyarakat dan menghilangkan jati diri bangsa.
                        Pada dasarnya orang tua sangat berperan penting dalam pembentukan etika atau tata krama pada anak. Orang tua pula dituntut untuk mengajarkan nilai-nilai tata krama tersebut. Bila sejak kecil anak-anak sudah diberi pelajaran dan bimbingan mengenai nilai-nilai tata krama akan lebih baik, daripada baru diajarkan saat sudah dewasa karena akan sangat sulit diperbaiki. Namun dalam mengajarkan nilai-nilai tata krama tidak bisa dilakukan dalam satu hari, membutuhkan proses yang cukup panjang, dan harus dilakukan secara konsisten dan berkesinambungan. Hal tersebut merupakan langkah awal membentuk generasi yang sadar diri terhadap nilai-nilai tata krama. Dan juga perlunya pendidikan mengenai nilai-nilai tata krama perlu dikembangkan lagi dalam pendidikan di sekolah, mengingat lingkungan pendidikan (sekolah) merupakan tempat dimana waktu banyak dihabiskan, maka perannya juga tidak boleh dikecilkan.
            Teman-teman yang saya banggakan,
Demikianlah pidato dari saya, semoga pidato tadi dapat bermanfaat bagi kita semua. Jika ada kata-kata yang kurang berkenan mohon dimaafkan. Akhir kata saya ucapkan terimakasih.
“Om Santih, Santih, Santih, Om”.

Puisi "Pergi Saja"

 Pergi Saja

Sudah cukup pergilah saja
Ku ikhlaskan kau dengannya
Asal kau bahagia disana
Saat bersama dirinya

Jangan muncul lagi dihadapanku
Sebab ku tak ingin mengenangmu
Karena disaat itu
Ku kan membenci dirimu

Cerpen "Kecerobohan Menjadi Sial"


Kecerobohan Menjadi Sial

Pagi itu aku terburu-buru berangkat sekolah, lantaran sudah kesiangan. Dengan cepat aku menaiki sepeda berangkat ke sekolah, jarak rumah dan sekolahku tidak terlalu jauh jadinya aku memilih menaiki sepeda ketimbang membawa motor yang menambah polusi, pikirku. Walaupun aku belum sarapan yang terpenting bagiku saat ini adalah sampai di sekolah sebelum gerbang di tutup.
            Untung saja aku tidak terlambat. “Coba saja kemarin aku tidak bergadang pasti tidak akan terburu-buru seperti ini”, kataku dalam hati.
Bel sekolah pun berbunyi, pertanda pelajaran dimulai. Semua siswa kelas VI.A yang tadinya ribut kini menjadi diam karena Bu Dewi masuk kelas untuk mengajar.
            “Ayu, lihat tugas IPA mu dong!” Nina teman dudukku meminta melihat tugas yang diberikan Bu Dewi minggu lalu.
“Tunggu, aku ambil dulu.” aku pun mencari-cari kedalam tasku. Setelah beberapa lama mencari tugas itu tak kunjung aku temukan.
“Mana tugasmu?” Nina tak sabar karena lama menunggu.
“Lo kok nggak ada ya?” aku pun bingung.
“Kamu sudah buat kan?” tanya Nina yang ikut bingung.
“Iya, aku sudah buat kemarin, aduh gimana ni?” jawabku dengan perasaan panik.
 “Anak-anak keluarkan tugas yang Ibu beri minggu lalu.” kata Bu Dewi. Aku pun semakin panik,
“Coba cari-cari lagi siapa tau nyelip di bukumu, atau mungkin ada di mapmu.” Nina berusaha menenangkanku. Aku kembali mencari ternyata tidak ada juga.
            Aku berusaha mengingat dimana aku meletakkan tugasku. “Kemarin aku membuat tugas itu, lalu aku menaruhnya di….” aku masih belum ingat.
Semua siswa mengumpulkan tugas itu diatas meja guru. Aku terus berusaha mengingatnya.
Tiba-tiba aku teringat sinetron kemarin “Oiya, tugasnya ku letakkan diatas kasur, gara-gara sudah mulai sinetronnya jadi aku cepat-cepat menonton dan lupa menaruh di tas.”
“Yaampun Ayu, setelah kamu menonton sinetron itu kamu tidak ingat menaruh tugas di tas?”
“Aku sama sekali tidak ingat, soalnya aku udah capek banget terus tidur, dan bangun-bangun udah siang makanya aku buru-buru.”
“Kamu itu ceroboh banget.” Nina menjadi kesal.
“Gimana dong sekarang?” jawabku yang semakin panik.
“Ya terpaksa kamu harus bilang ke Bu Dewi.” sahut Nina yang tak bisa memberi jalan keluar lain.
“Hmm oke.” jawabku yang harus bertanggung jawab. Dengan perasaan takut ku menuju bangku guru.
 Aku pun berkata jujur kepada Bu Dewi tapi Bu Dewi tidak mau mendengar alasanku. Bu Dewi terkenal sebagai guru yang galak dan banyak ditakuti siswa.
“Sebagai hukuman untukmu Ayu, buat tugas hal 12-14 dikumpul sebentar pas jam istirahat.”
“iya bu.” jawab aku pasrah.
Pulang sekolah, aku beristirahat di kamarku yang merupakan ruangan favorit di rumah ini. Aku memilih beristirahat sebelum mengikuti les. Rencananya Nina yang akan menjemputku. Jam menunjuk angka 14.35, aku menunggu Nina sambil menonton acara TV kesayanganku. Tepat jam 14.40 Nina menjemputku.
Dengan rambut yang berantakan Nina nyengir ke arahku. “Jam berapa ni? Kita terlambat?” tanya Nina.
“Oh tidak, masih ada waktu 20 menit lagi sebelum les dimulai.” jawabku
“Syukurlah.” sahut Nina.
“Kamu kenapa berantakan gitu kelihatannya?” tanyaku sambil naik ke atas motor.
“Tidak kok, ku kira tadi kita terlambat, jadi aku ngebut deh.” jawab Nina lalu menghidupkan motornya.
Les pun dimulai jam 15.00  dan berakhir pukul 16.30. Karena kehausan aku dan Nina memutuskan untuk membeli minum di warung Cermat sambil nongkrong dan mengobrol. Tiba-tiba hand phoneku berbunyi, ternyata telpon dari Mama.
Mama minta dibelikan es gula yang kebetulan aku sedang ada di warung Cermat. Setelah membeli pesanan Mama aku kembali duduk dan mengobrol. Tak terasa mataharipun mulai terbenam, nampaknya warung Cermat akan tutup juga, walaupun masih banyak anak muda yang nongkrong disana. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang.
Sesampainya aku di rumah aku merasakan melupakan sesuatu.
“Mana es pesanan Mama?” tanya Mama kepadaku.
“Yatuhan ketinggalan, uangku juga ketinggalan disana.” aku baru sadar
“Ayu Ayu, padahal Mama sudah menunggu dari tadi, sudahlah biarkan saja.”
 Aku sangat menyesal dengan perbuatan cerobohku. Walaupun Mama tidak memarahiku, tetapi aku masih tidak ikhlas dengan uang yang ada di kantong kresek es itu yang tertinggal di meja warung Cermat padahal uang itu untuk membeli jam baru.
“Ini yang terakhir kalinya.” gumamku.

Powered by Blogger.